MEMPROTEKSI HARGA KARET

Oleh: Darol Arkum
Dosen dan Peneliti pada Pusat Studi Pembangunan dan Kebijakan Publik STISIPOL Pahlawan 12 Bangka

KARET merupakan salah satu komoditas andalan sektor perkebunan mata pencaharian masyarakat di Bangka Belitung selain lada. Bahkan saat ini salah satu panglima komoditas andalan masyarakat tersebut terus mengalami pergeseran kearah perkebunan kelapa sawit. Peralihan komoditas diakibatkan karena harga komoditas tersebut khususnya lada yang pernah mengalami kemunduran harga di tingkat petani dalam kurun waktu yang cukup panjang. Bahkan lonjakan harga logam hitam timah pernah menjadi sektor substitusi masyarakat di tengah gejolak harganya yang cukup fantastis. Peralihan sektor timah sebagai mata pencaharian bahkan menggiring berkurangnya lahan perkebunan lada dan karet yang dirambah untuk aktivitas pertambangan rakyat.

Berbeda dengan kebijakan timah yang pernah mengalami penurunaan harga, maka hampir seluruh stakeholders di bidang kebijakan pertambangan timah mencari solusi alternatif sesegera mungkin agar komoditas timah mengalami peningkatan harga. Kebijakan untuk mendongkrak harga timah dilakukan mulai dengan membentuk kelembagaan dan asosiasi khusus penanganan harga timah, melakukan moratorium ekspor timah serta mencari pangsa pasar alternatif, peningkatan kualitas olahan logam timah juga pernah dilakukan untuk menangani persoalan kemorosatan harga timah.

Mengapa hanya timah?
Ada pertanyaan yang menelisik penulis saat mengamati fenomena ini yaitu mengapa komoditas logam hitam ini menjadi daya tarik khusus bagi pemerintah daerah dan pusat serta para stakeholders untuk intervensi ketika harga tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sementara di satu sisi ketika harga karet bahkan lada yang cukup jangka panjang mengalami penurunan, pemerintah baik daerah maupun pemerintah pusat relatif cenderung “diam” untuk melakukan intervensi. Bukankah sektor-sektor tersebut merupakan sektor utama dan menyangkut kepentingan pendapatan dan kesejahteraan hampir seluruh masyarakat di Bangka Belitung. Bahkan secara rasional sektor perkebunan lebih sangat efektif berjangka panjang untuk di kembangkan di Bangka Belitung dalam kurun waktu yang sangat berkelanjutan?

Intervensi Kebijakan moratorium timah yang pernah dilakukan pemerintah dalam upaya mengatasi persoalan penurunan harga timah telah menunjukkan hasil yang cukup nampak dalam menekan dan mendongkrak harga timah di tingkat pasar dunia internasional. Indikasi ini ditunjukkan oleh beberapa pelaku pasar bisnis timah yang datang ke Bangka Belitung guna menelisik berkurangnya pasar timah dunia di pasar. Beberapa pengusaha yang terlibat langsung dalam dunia bisnis timah mendatangi Bangka Belitung antara lain Korea Selatan, Jepang, Jerman, Jepang dan Singapura serta Malaysia.

Perlu intervensi
Indonesia, Malaysia, Thailand merupakan salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia bahkan ketiga negara tersebut dapat berperan menjadi pengendali ekspor karet yang dapat efektif dilakukan sebagaimana kebijakan ekspor timah untuk mendongkrak harga karet sekaligus untuk menolong petani karet. Sebagai salah satu penghasil karet di Indonesia dengan daerah lainnya seperti Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan dan daerah lainnya sejatinya berinisiasi dengan secara bersama-sama baik pemerintah pusat dan daerah serta seluruh stakeholders dibidang perkebunan kaaret untuk dapat berperan untuk menentukan harga karet dunia. Bukan semata-mata ditentukan secara otonom oleh pembeli.

Pembatasan kuota karet bersama-sama dengan negara penghasil utama karet dapat ditempuh jika pemerintah punya komitmen dan kesungguhan yang kuat untuk memajukan sektor pertanian dan perkebunan. Begitu pula pembentukan asosiasi petani karet harus dilakukan dan secara aktif berperan dan banyak mengambil peranan. Peran ini harus dilakukan oleh serempak bersama-sama dengan daerah dan negara-negara penghasil karet utama. Tentunya pengaturan pasokan tidak dapat dilakukan oleh para petani mengingat para petani memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari penjualan produksi karet. Jika para petani menahan produksi karet maka para petani tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang relatif tergantung dengan pendapatan dari penyadapan karet.

Moratorium atau penahanan sementara ekspor karet dapat dilakukan oleh para eksportir dan pengusaha besar. Dengan demikian ketika harga karet turun maka secara serentak para eksportir karet menghentikan sementara dan menyimpan karet di gudang. Sehingga pasokan karet menjadi berkurang di dunia Internasional sementara kebutuhan meningkat maka dengan demikian akan terjadi kenaikan harga karet.

Nilai ekonomi karet sesungguhnya memiliki peran yang cukup besar. Selama ini nilai ekonomi karet di Bangka Belitung hanya dilihat dari aspek getahnya semata. Padahal masih ada potensi lainnya antara lain aspek kayu serta nilai kontribusinya terhadap pengurangan karbon. Karet dianggap mampu untuk mengabsorbsi karbon. Nilai lingkungan ini sejatinya harus menjadi perhatian Pemerintah Bangka Belitung mengingat Bangka Belitung sedang bahkan sudah mengalami distorsi lingkungan yang cukup pesat akibat kegiatan pertambangan timah.

Nilai ekonomi karet terhadap lingkungan sangatlah baik bila dibandingkan dengan nilai ekonomi sawit yang pernah jatuh harganya disebabkan isu lingkungan hidup bahwa sawit dianggap tidak ramah lingkungan. Kelebihan nilai ekonomi karet ini dapat menjadi daya tawar bagi pemerintah untuk menjadi bergaining position bagi negara maju untuk meningkatkan harga karet di mata dunia di tengah isu global warning (pemanasan golal) saat ini. Bukankah negara-negara maju berkepentingan dengan isu-isu lingkungan saat ini?

Peningkatan harga karet diharapkan akan mampu meningkatkan minat petani untuk menghidupkan kembali sektor pertanian yang cenderung menurun dan pernah bergeser. Tentunya Pemerintah harus berupaya melakukan intervensi kebijakan secara komprehensif melalui peningkatan dan pendirian perusahaan pengolahan getah karet untuk meningkatkan mutu dan harga jual karet di sektor hilir. Pemberian bibit unggul serta peremajaan perkebunan karet milik masyarakat yang saat ini masih menggunakan bibit alami harus segera diintervensi untuk diganti dengan bibit unggul.

Percepatan hilirisasi industri karet di tingkat lokal serta nasional juga perlu dilakukan. Pemerintah harus menghitung besaran tingkat produksi karet Bangka Belitung untuk dikomparasikan dengan luas yang tersedia. Perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat apakah luas lahan sudah sangat efektif dibandingkan dengan produksi karet.

Pemerintah dapat melakukan intervensi terhadap pasar jika pasar gagal (market failure) untuk menjanijikan invisible hand ( tangan tuhan) yang akan mengatur keseimbangan pasar menurut aliran kapitalisme. Hal ini dilakukan mengingat fungsi regulasi yang dimiliki oleh pemerintah serta fungsi proteksi terhadap tugas utnuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat masyarakat luas.

Mudah-mudahan intervensi pasar pemerintah dalam mengatasi harga karet ini mampu menjadi salah satu insentif besar untuk menggairahkan kembali sektor pertanian dan perkebunan pasca timah. Dengan sebuah harapan besar bahwa masyarakat petani karet menjadi lebih sejahtera dan dapat menikmati keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. ***

By FRAKSI PKS DPRD BASEL 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s